3 Wisata Budaya & Kuliner DiTemanggung

WISATA BUDAYA TEMANGGUNG


1. “Slametan wiwit tembakau” perkaya wisata budaya Temanggung

Slametan wiwit tembakau yang baru pertama kali digelar Pemerintah Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, bakal memperkaya wisata kultural di daerah penghasil tembakau ini. 
“Kegiatan wiwit tembakau yang baru pertama kali digelar di tingkat kabupaten ini, ke depan bisa diselenggarakan setiap tahun dan bisa menjadi daya tarik wisata,” kata Bupati Temanggung M. Al Khadziq di Temanggung, Sabtu (27/4/2019).
Ia menyampaikan hal tersebut usai “Slametan wiwit tembakau merti Bhumi Phala 2019” di Alun-Alun Temanggung yang dihadiri ribuan petani tembakau.Tradisi slametan wiwit tembakau atau sebagian masyarakat di lereng Gunung Sumbing dan Sindoro menyebutnya dengan tradisi among tebal ini sebenarnya sudah dilakukan para petani setiap awal tanam tembakau di masing-masing dusun atau desa, namun untuk tingkat kabupaten baru pertama kali diselenggarakan.
Dalam slametan wiwit tembakau di Alun-Alun Temanggung tersebut dihadiri petani dari 20 kecamatan di Temanggung, termasuk dari beberapa kecamatan bukan penghasil tembakau seperti Pringsurat, Kranggan, dan Kaloran.
Masing-masing kelompok membawa tumpeng dan ingkung ayam yang jumlahnya mencapai 2.000an ke Alun-Alun Temanggung kemudian mereka makan bersama-sama setelah dilakukan doa bersama.
Khadziq mengatakan semangat masyarakat begitu tinggi dalam slametan wiwit tembakau ini.
“Para pelaku pertembakauan semangatnya begitu tinggi dan masyarakat pada umumnya bersemangat, kita berusaha untuk menyelenggarakan setiap tahun,” katanya.Menurut dia, kegiatan ini selain berfungsi untuk mempersatukan masyarakat pertembakauan, juga mempunya fungsi untuk melakukan kritik terhadap dunia pertembakauan sendiri.
“Kalau bisa ini nanti menjadi event kultural yang dapat jadi daya tarik kunjungan wisatawan dari luar kabupaten bahkan wisatawan mancanegara,” katanya.
Dalam slametan wiwit tembakau tersebut juga dipentaskan sejumlah kesenian tradisional yang menambah semarak dan menjadi daya tarik tersendiri.


Alamat:Temanggung , Suronatan, Temanggung II, Kec. Temanggung, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah

2.KESENIAN KUDA LUMPING WONG TEMANGGUNG

Sejarah asal muasal seni tari Kuda Lumping ini tidak ada catatan secara tertulis yang menjelaskan.Hanya sebuah riwayat saja yang diceritakan turun temurun dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Kesenian Tari Kuda lumping adalah sebuah seni tari yang dimainkan dengan menggunakan peralatan berupa kuda tiruan yang dibuat dari anyaman bambu atau kepang yang diberi cat warna warni dan diberi motif seperti kuda dan diberi rambut tiruan, sehingga masyarakat Temanggung menyebutnya Jaran kepang.


Mengenai Sejarah asal muasal seni tari Kuda Lumping konon katanya sih adalah bentuk dukungan rakyat terhadap pasukan berkuda Pangeran Diponegoro dalam menghadapi penjajah Belanda. Ada pula versi yang menyebutkan, bahwa tari Kuda Lumping adalah menggambarkan kisah perjuangan Raden Patah, yang dibantu oleh Sunan Kalijaga, melawan penjajah Belanda. Versi lain menyebutkan bahwa, tarian ini mengisahkan tentang latihan perang pasukan Mataram yang dipimpin Sultan Hamengku Buwono I, Raja Mataram, untuk menghadapi pasukan Belanda. Ada pula versi yang menyebutkan, bahwa tari kuda lumping menggambarkan kisah seorang pasukan pemuda cantik bergelar Jathil penunggang kuda putih berambut emas, berekor emas, serta memiliki sayap emas yang membantu pertempuran kerajaan bantarangin melawan pasukan penunggang babi hutan dari kerajaan lodaya pada serial legenda reyog abad ke 8.

Terlepas dari asal usul dan nilai historisnya, tari kuda lumping merefleksikan semangat heroisme dan aspek kemiliteran sebuah pasukan berkuda atau kavaleri. Hal ini terlihat dari gerakan-gerakan ritmis, dinamis, dan agresif, melalui kibasan anyaman bambu, menirukan gerakan layaknya seekor kuda di tengah peperangan.

Seringkali dalam pertunjukan tari kuda lumping, juga menampilkan atraksi yang mempertontonkan kekuatan supranatural berbau magis, seperti atraksi mengunyah kaca, kekebalan dihujani cambukan pecut, dan lain-lain. Mungkin, atraksi ini merefleksikan kekuatan supranatural yang pada zaman dahulu berkembang di lingkungan Kerajaan Jawa, dan merupakan aspek non militer yang dipergunakan untuk melawan pasukan Belanda.

Satu hal lagi yang harus terjadi disaat pementasan tari kuda lumping yaitu kesurupan. Seorang atau lebih penari kerasukan roh halus atau jin. Saat kesurupan para penari kuda lumping bisa berubah menjadi sangat gila, bahkan ada yang mengamuk. Anda tidak percaya? Silahkan buktikan. hehe

Kesenian tari kuda lumping ini biasanya ditampilkan dalam event event tertentu misalnya menyambut Tamu Kehormatan,sebagai acara syukuran atas Doa yang dikabulkan Yang Maha Kuasa dan juga sebagai hiburan Hari Raya, karena pada saat itu banyak keluarga yang sedang kembali dari perantauan.

Kesenian kuda lumping di Temanggung sekarang sudah semakin berkembang, tidak hanya tarian spot masal, warok, pentul dan barong saja, sekarang juga sebagian besar sudah menggunakan leak, bahkan di daerah Sanggrahan Kranggan dan Lamuk Gunung sudah dikolaborasi dengan tari payung. Sempat juga saya dulu melihat tari kuda lumping di daerah jragan yang menampilkan adegan tari gendruwo dan tari butho macan, pokoknya kesenian kuda lumping di Temanggung saat ini sudah maju dengan pesat. Salut untuk para pemuda di Temanggung yang masih menjaga kesenian warisan nenek moyang.



Alamat: Gn. Sindoro, Area Gn., Damarkasiyan, Kec. Kertek, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah


3.Tradisi Religi Jumat Pahingan

MENGGORO adalah salah satu desa yang berada di Kecamatan Tembarak, Kabupaten Temanggung. Sebuah kecamatan yang ada di lereng gunung Sumbing (3.371 m dpl).
Sebuah tradisi unik sejak dahulu hanya ada di Masjid Menggoro Kecamatan Tembarak Kabupaten Temanggung, tradisi yang bisa dijadikan Wisata Religi, yaitu Malam Jemuah Pahingan atau Malam Jum’at Pahing, Desa ini menjadi salah satu daya tarik wisata religi.Pusat keramaian ada di masjid Jami’ Menggoro. Pengunjung tidak hanya datang dari daerah Temanggung saja. Tetapi juga dari berbagai daerah sekitar. Pengunjung kebanyakan dari luar kota seperti Kendal, Pekalongan, Wonosobo, Magelang, Yogyakarta, Surakarta, Semarang, bahkan ada yang datang dari Jawa Barat dan Jawa Timur.
Acara inti adalah mujahadah, baik secara perorangan maupun kelompok. Selain Mujahadah, dalam kegiatan malem jemuah pahingan juga digelar pasar malam.  Dalam pasar malam ini dijual berbagai macam makanan jajanan pasar (apem, cucur, ketupat, brongkos kikil), mainan anak-anak, dan pakaian. Yang paling terkenal adalah masakan bronkhos kepala kambing ala Menggoro.
Pasar yang digelar di pelataran yang cukup luas di depan Masjid. Untuk melengkapi nadzar-nya biasanya mereka akan membeli kembang boreh, yaitu serangkaian bunga mawar dan rajangan daun pandan yang diberi boreh yang dibuat dari enjet atau kapur yang diberi warna kuning. Enjet ini akan ditorehkan pada bagian tubuh sesuai niatnya, misalnya di daun telinga, leher atau kaki dan sebagainya. Hampir semua pengunjung pasar malam berasesoris boreh di wajahnya.
Boreh berasal dari bahasa Jawa yang mempunyai arti dibubuhi atau dioleskan. Isi dari kembang boreh adalah enjet (kapur sirih) yang dicampur dengan pewarna makanan kuning dan dibubuhi bunga mawar.
Fungsinya adalah sebagai penolak bala. Kemudian sisanya kembang boreh ini biasanya diletakkan pada tempat-tempat tertentu seperti di perempatan jalan, di sendang dan sebagainya. Mirip sesaji seperti yang dilakukan Umat Hindu atau Budha sebagai bagian dari akulturasi budaya setempatGrebeg Cucur
Selain ritual malem jumuah pahing warga juga mengikuti ritual grebeg cucur (kue goreng berbahan beras ketan dan santan) saat dilangsungkan tradisi Grebeg Cucur Menggoro. Tradisi Grebeg Cucur Menggoro telah dilakukan warga setempat sejak puluhan tahun silam sebagai ungkupan rasa syukur kepada Allah sekaligus untuk menghormati arwah ulama penyebar agama Islam yang diyakini warga setempat sebagai tokoh pendiri desa.
Tradisi malem jemuah pahingan dan Grebeg Cucur sudah ada sejak abad ke 16. Pokok kegiatan adalah mujahadah dilakukan secara perseorangan atau per-kelompok secara bergantian sesuai dengan urutan kehadiran. Tradisi malam jemuah pahingan sarat dengan simbol-simbol dan di dalamnya terdapat unsur kepercayaan lama (pra Islam) yaitu animisme dan dinamisme.
Tradisi malam jemuah pahingan memiliki makna tersendiri bagi masyarakat pendukungnya. Hal tersebut terungkap dalam fungsi dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya sehingga tradisi tersebut masih lestari hingga kini.
Kebanyakan pengunjung yang memiliki tujuan atau cita-cita tertentu, terlebih dahulu membeli sebungkus kembang setaman (boreh). Mereka meminta juru kunci untuk diberkahi. selanjutnya bunga disebar di perempatan dengan menebar beberapa uang recehan untuk shodakoh. Spontan anak-anak desa Menggoro yang sudah lama menunggu akan berebut uang recehan tersebut.


Alamat:Pasar jum'at pahing, Sragan, Menggoro, Tembarak, Temanggung Regency, Central Java 56261

  KULINER KHAS TEMANGGUNG


1. Balung Kuwuk




Makanan khas temanggung pertama yang bisa Anda jadikan sebagai oleh- oleh adalah balung kuwuk. Tahukah Anda jika kuliner yang satu ini bisa dikatakan kerikpiknya orang Temanggung. Nah bahan utama pembuatan balung kuwuk ini adalah ketela yang biasanya akan diiris tipis- tipis.
Proses awal pembuatan dimana ketela tersebut direbus lalu diiris tipis- tipis dan dijemur dibawah sinar matahari. Jika sudah kering lalu digoreng dan juga akan menghasilkan keripik yang gurih, renyah dan juga nikmat karena juga akan diberikan bumbu pedas yang berasa dari cabai, saus tomat dan juga sedikit tambahan gula.

2. Mendut


Menjadikan kue sebagai oleh- oleh Anda tentu saja juga menjadi pilihan yang tepat. Nah kali ini makanan khas temanggung yang bisa Anda jadikan oleh- oleh adalah mendut. Mendut ini merupakan kue yang terbuat dengan bahan dasar beras ketan, teksturnya sangat kenyal, sekilas mirip dengan kue bugis yang merupakan kue khas Makassar, hanya saja rasanya berbeda.
Anda akan mendapatkan sensasi yang berbeda ketika Anda mencicipi makanan yang satu ini, karena bagaimana tidak, sewaktu Anda mengigitnya maka akan keluar cairan berwarna kecoklatan dengan rasa manis. Nah cairan tersebut berasal dari gula merah yang dimasukkan sehingga sewaktu proses perebusan gula merah tersebut mencair.

3. Jadah


Adapun makanan khas temanggung lainnya yang bisa Anda nikmati sekaligus bisa Anda jadika sebagai oleh- oleh adalah jadah. Tahukah Anda jika jadah ini merupakan makanan yang terbuat dari ketan, yang ditumbuk dalam keadaan masih panas- panas sehingga nantinya akan menghasilkan tektur yang kenyal. Sehingga nantinya setelah semua ketan bersatu Anda bisa mengorengnya dan menikmatianya dengan secangkir kopi atau juga teh hangat.


Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

5 Tempat Wisata di Temanggung